BudayaRumah Adat DKI Jakarta beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya

Rumah Adat DKI Jakarta beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya

Rumah Adat DKI Jakarta beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya– Suku Betawi merupakan masyarakat asli Jakarta sejak abad ke-17. Batavia tempo dulu perlahan tetapi pasti berubah menjadi kota metropolitan. Sehingga memicu pertumbuhan penduduk skala besar. Rumah adat DKI Jakarta adalah rumah Kebaya sedangkan bahasa daerah yang digunakan adalah Betawi Melayu. Budaya Melayu sangat kental pada semua aspek tradisi mereka. 

Pertumbuhan penduduk mempercepat perkembangan modernisasi. Rupanya berdampak terhadap kehidupan suku Betawi. Generasi muda tak lagi tertarik melakukan tradisi nenek moyang. Bahkan cenderung kurang paham apa saja warisan budaya bangsa. Budaya Betawi merupakan asimilasi dari berbagai suku dan bangsa. Itulah mengapa musik-musik tradisional Betawi banyak berunsur Tionghoa.

Selain bangunan modern dan megah yang mendominasi Jakarta. Keberadaan rumah-rumah adat Betawi memberikan warna tersendiri. Bangunan tradisional memiliki filosofinya masing-masing. Melalui artikel ini kamu bisa memperoleh informasi lengkap dan bermanfaat. Jadi pastikan untuk membaca hingga akhir.

Rumah Adat DKI Jakarta

Karakteristik berbeda dari suku dan budaya manapun. Menandakan jika daerah tersebut masih melestarikan warisan nenek moyang. Sehingga jangan heran bila kamu menemukan cemilan tradisional, atraksi hiburan tradisional, hingga bentuk rumah tradisional. Salah satunya yang bisa kamu temukan adalah rumah adat DKI Jakarta. 

Mulai dari tahap pembangunan hingga pemilihan ornamen interior. Semua memiliki makna filosofis yang berarti bagi masyarakat Betawi. Sejauh ini rumah adat Betawi namanya resmi diakui oleh pemerintah sebagai warisan budaya. Rumah Kebaya sebagai tempat tinggal tradisional suku Betawi. Meskipun masih ada beberapa jenis rumah tradisional lainnya. Seperti rumah panggung, rumah joglo, dan rumah gudang.

Rumah Adat Kebaya

Nama rumah adat DKI Jakarta yang lebih populer masyarakat kenal adalah rumah Kebaya. Bangunan tradisional khas Betawi satu ini sering pula disebut dengan rumah Bapang. Rumah adat Betawi bernama rumah Kebaya, karena atapnya terlihat seperti bentuk pakaian tradisional Kebaya. Salah satu tata ruang yang identik dengan rumah Kebaya adalah ukuran teras. Masyarakat Betawi sangat menyukai berkumpul di halaman rumah. Jadilah mereka membuat teras berukuran besar agar cukup menampung semua keluarga. 

Biasanya pemilik rumah meletakkan kursi atau bale-bale yang terbuat dari bambu. Tidak heran jika suku Betawi terkenal ramah dan terbuka pada siapa saja yang berkunjung. Keberadaan pagar merupakan pertanda jika pemilik rumah membatasi diri terhadap hal negatif. Penampakan rumah kebaya bisa kamu lihat dari gambar rumah adat suku Betawi berikut ini.

Gambar rumah adat DKI Jakarta rumah kebaya rumah tradisional Betawi
Gambar rumah Kebaya, rumah adat DKI Jakarta | via: nowjakarta.co.id

Rumah Adat Panggung

Tampilan tempat tinggal tradisional Betawi berbeda satu dengan lainnya. Rumah si Pitung merupakan contoh gambar rumah adat DKI Jakarta yang berbentuk panggung. Masyarakat Betawi akan membangun rumah mengikuti lokasi. Apabila mereka berprofesi sebagai nelayan sudah pasti bertempat tinggal di wilayah pesisir. Model rumah panggung memang sempurna melindungi masyrakat dari ombak. 

Kamu bisa melihat bahwa tiang-tiang kayu atau bambu menopang bangunan dengan sempurna. Umumnya bangunan berada 1-1.5 mtr dari permukaan tanah. Sehingga penghuni tetap aman dari terjangan ombak. Meskipun air laut dalam kondisi pasang. Jumlah tiang akan menyesuaikan luas dari bangunan itu sendiri. Kayu dipilih lantaran mudah ditemukan dan bertekstur kuat menopang rumah.

Gambar rumah si Pitung rumah panggung nama rumah adat Betawi di DKI Jakarta
Gambar rumah Panggung | via: suara.com

Rumah Adat Joglo

Rumah adat DKI Jakarta juga ada yang berbentuk Joglo. Sekilas kita bisa mengira bahwa bangunan tersebut adalah rumah adat Jawa Tengah. Padahal terdapat ciri khas yang bisa kamu temukan pada eksterior bangunan. Yaitu tidak adanya tiang penyangga atau pilar pada bagian depan rumah. Pilar penyangga merupakan ciri khas rumah adat Jawa.

Bentuk rumah adat Joglo memajang dan membentuk bujur sangkar. Umumnya bangunan memiliki pembagian ruang depan, tengah dan belakang. Pada masanya masyarakat Betawi yang terpandang akan menempati rumah adat ini. Itulah mengapa letak bangunan cukup mudah kita temukan di tengah kota Jakarta.

Gambar rumah adat Betawi Joglo provinsi DKI Jakarta
Gambar rumah Joglo, rumah adat Betawi | via: blogspot.com

Rumah Adat Gudang

Satu lagi yang patut kamu ketahui nama rumah adat DKI Jakarta adalah rumah Gudang. Bukan seperti gudang penyimpanan barang. Melainkan bangunan berbentuk persegi panjang yang masih sangat original. Pemilik rumah gudang memang membangun tempat tinggalnya murni tanpa adaptasi budaya baru.

Kebanyakan rumah gudang sulit ditemukan karena letaknya yang terpencil. Ciri khas bangunan bisa kamu lihat dari bentuk atapnya yang miring. Suku Betawi menyebut atap miring sebagai markis. Markis sangat berguna menghalangi terik sinar matahari, angin dan hujan.

Gambar rumah Gudang rumah adat Betawi DKI Jakarta
Gambar rumah Gudang | via: indonesiakaya.com

Ciri Khas & Keunikan Rumah Adat Betawi

Rumah adat DKI Jakarta Kebaya memiliki ciri khas dengan halaman tempat tinggal yang luas. Berfungsi menjamu tamu dan tempat berkumpul keluarga. Pada halaman akan kamu bisa temukan kursi bambu atau kayu jati. Sebagai bentuk penghormatan pemilik rumah, masyrakat Betawi menyebut lantai halaman mereka sebagai gejogan. 

Rumah adat DKI Jakarta dan keunikannya terlihat dari filosofi-filosofi dibalik pembangunan. Seperti gejogan yang dianggap sakral. Tangga balaksuji yang selalu ada di depan halaman tempat tinggal. Berfilosofi sebagai jalan penghubung area luar bangunan dengan dalam. Masyarakat Betawi juga terkenal mempunyai toleransi tinggi terhadap perbedaan. 

Filosofis lain yang sangat mudah kamu lihat adalah keberadaan pagar rumah. Tujuannya adalah menghalangi segala bentuk pengaruh negatif. Sehingga pemilik rumah tetap sebagai pribadi yang ramah, santun, beretika, dan tanpa prasangka buruk. Suku Betawi juga memiliki tradisi menempatkan makam keluarga pada area tempat tinggal.

Bangunan

Bangunan rumah adat DKI Jakarta dan penjelasannya terbagi atas beberapa fungsi ruang. Pembagian setiap ruang lagi-lagi didasari filosofi tertentu. Masyarakat Betawi memang sangat menghargai pemikiran-pemikiran para pendahulunya. Mereka selalu membangun tempat tinggal berdasarkan urutan yang sama dari waktu ke waktu. Yaitu teras atau halaman, ruang tengah dan ruang belakang. 

Pemilik rumah secara rutin membersihkan halaman mereka. Karena menghargai setiap tamu yang sewaktu-waktu datang berkunjung. Mereka juga mematuhi aturan membangun rumah. Dimana rumah tak boleh berada di luar wilayah pedalaman ataupun pesisir pantai Jakarta.

Tiang

Rumah adat DKI Jakarta dan ciri khasnya terlihat pada susunan berumpak. Menggunakan material batu kali sebagai fondasi. Barulah tiang dipilih memakai bahan seperti kayu dan bambu. Kayu yang kerap masyarakat Betawi pergunakan adalah dari pohon sawo, nangka, gowok, kecapi, rumbia, dan cempaka. Tidak sedikit pula yang memakai kayu jati sebagai penyangga rumah panggung.

Konsep rumah adat DKI Jakarta yaitu berumpak, antara batu persegi dengan bahan lainya. Batu kali dibentuk seukuran 20cm hingga 25 cm. Barulah campuran semen, kerikil dan karang menjadi perekat fondasi pertama. Teknik umpak cukup efektif menahan beban bangunan. 

Tangga

Tangga atau Balaksuji bukan hanya terdapat pada rumah adat Jakarta berbentuk panggung. Maka dari itu material yang masyarakat Betawi pergunakan cukup beragam. Misalkan pada rumah Joglo atau Kebaya, tangga memafaatkan material semen atau keramik. Sementara untuk rumah panggung, tangga lebih umum memakai material kayu.

Dinding

Dinding rumah adat Betawi menggunakan batu bata sebagai landasan. Barulah kayu nangka dipergunakan sebagai kolom bangunan. Sementara dinding bagian depan memanfaatkan kayu gowok. Setelah dinding selesai terpasang akan dicat dengan warna-warna cerah seperti hijau. Termasuk menempatkan ukiran-ukiran sebagai ornament. Sejumlah rumah tradisional juga masih ada yang memakan anyaman bambu.

Lantai

Keunikan rumah adat suku Betawi terlihat pula pada pemilihan material lantai. Dahulu sebelum modernisasi berkembang. Bangunan tempat tinggal memakai bambu sebagai alas rumah. Bahkan tidak sedikit yang membiarkan saja lantai terbuat dari tanah. Namun seiring berjalannya waktu, rumah-rumah adat menggunakan keramik atau setidaknya lantai berplester semen.

Atap

Atap rumah adat Betawi Kebaya mempunyai sejumlah wuwungan. Pada bagian luar rumah memiliki bentuk trapesium melebar yang berlipat. Sementara dari sisi depan atap terlihat seperti segitiga. Kayu kecapi kerap dimanfaatkan sebagai rangka reng. Reng merupakan dudukan meletakkan genteng. Sementara reng sendiri memakai material bambu yang sebelumnya dibelah. Bambu tidak akan dibelah sebagai bahan kaso reng.

Bentuk rumah adat Jakarta adalah persegi panjang dengan luas yang beragam. Atap rumah gudang seperti pelana kuda. Masyakarat setempat menyebut atap rumah adat Betawi bernama Markis. Sementara atap rumah Joglo akan menjorok kebagian atas layaknya rumah Jawa.

Dekorasi 

Dekorasi setiap sudut rumah adat Betawi berasal dari ornament adat. Ornamen merupakan identitas pemilik tempat tinggal. Diantaranya adalah gigi baling yang berbentyk segitiga. Termasuk banji berbentuk tumbuh-tumbuhan, seperti bunga atau  bentuk pepohonan. 

Tidak jarang bentuk bunga matahari terpajang sebagai ornament. Sebab bunga matahari memiliki makan sumber cahaya dan kehidupan. Harapan pemilik rumah, nantinya mereka selalu mampu menjaga pikiran dan sikap dalam bermasyarakat.

Balaksuji juga dapat kita golongkan sebagai dekorasi tempat tinggal. Tangga bermakna menolak bencana masuk ke dalam rumah. Termasuk langkah menyucikan sebelum masuk ke dalam tempat tinggal. Masyarakat Betawi sangat menyukai ukiran geometris, belah ketupat, lingkaran. Nantinya akan mereka letakkan di atas daun pintu, jendela, teras, dan lainnya.

Denah Ruangan

Zona lokasi rumah adat Jakarta dan keunikannya dikelompokan dalam dua pembagian wilayah. Yaitu zona lingkungan bagian dalam Jakarta dan zona wilayah pesisir pantai. Seperti lingkungan rumah adat Jakarta Barat tergolong sebagai wilayah lokasi tempat tinggal dalam. Mulai dari Kebon Jeruk, Bintaro, kemudian Jakarta Selatan seperti Cinere. Sementara letak perkampungan Betawi daerah pesisir pantai. Diantaranya berada di area Marunda dan Condet.

Rumah adat Jakarta Betawi masing-masing tipe mempunyai karakteristik berbeda. Hal tersebut bisa kamu lihat dari cara pembagian ruang. Seperti rumah adat Jakarta Kebaya dan Joglo yang mempunyai tiga ruangan. Kemudian rumah gudang yang membagi ruangan menjadi dua fungsi. Berikut adalah bagian-bagian rumah adat Jakarta beserta penjelasannya.

Ruang Paseban

Ruangan Paseban berfungsi sebagai kamar untuk tamu. Setiap kali tamu atau keluarga datang dan menginap. Maka akan ditempatkan pada ruangan Paseban. Ruangan ini cukup fungsional, selain sebagai kamar tamu juga bisa dipergunakan sebagai ruang ibadah.

Ruang Depan

Ruang depan merupakan halaman tempat menerima tamu. Umumnya ruangan terlihat melebar dan luas, sehingga mampu menampung tamu dalam jumlah banyak. Rumah adat Betawi dan keunikannya terlihat dari penempatan jendela bulat tanpa teralis ataupun daun jendela. Tujuannya adalah menjadi pembatas antara ruang satu dan lainya. Termasuk sebagai pembatas bagi anak perempuan pemilik rumah ketika berbincang dengan tamu pria.

Ruang Tengah

Ruang tengah rumah adat suku Betawi terdiri atas ruang makan, kamar tidur dan pendaringan.  Kamar terbagi menjadi dua tipe, yaitu bersekat dan terbuka. Bagian terdepan kamar tidur akan ditempati oleh anak gadis penghuni rumah tersebut. Kamar terbesar menjadi milik kepala keluarga dan istrinya. Biasaya setiap rumah memiliki empat kamar tidur.  Sementara pendaringan selalu berada di bagian terbelakang ruang tengah. Karena untuk tempat penyimpanan bahan makanan.

Ruang Belakang

Rumah adat suku Betawi adalah rumah yang penuh dengan berbagai tumbuhan. Biasanya halaman tempat tinggal ditanami berbagai pepohonan. Termasuk gemar membuat perkebunan mini untuk kebutuhan keluarganya. Keberadaan ruang belakang memiliki fungsi sebagai tempat memasak alias dapur.  Pemilik selalu membuat tapang untuk meletakkan balai-balai. Kamar mandi juga akan kamu temukan pada bagian belakang rumah.

Dapur atau ruang Srondoyan termasuk penting bagi rumah adat suku Betawi dari DKI Jakarta. Ruangan terhubung dengan kamar makan ataupun tempat penyimpanan. Biasanya Srondoyan dibuat oleh mereka yang memiliki perekonomian lebih baik.

Ruang Pangkeng

Ruang bersantai rumah adat suku Betawi disebut Pangkeng. Masyarakat Betawi menghabiskan waktu bersantai malam hari disini. Saat ini ruang Pangkeng tempat keluarga Betawi meletakkan sumber hiburan. Cara tersebut agar suasana keluarga semakin hangat dan dekat satu sama lainnya.

Sejarah & Asal Usul Rumah Adat Betawi

Sejarah rumah adat suku Betawi dan penjelasannya selalu menarik diperbincangkan. Konsep rumah adat suku Betawi adalah bentuk percampuran alkulturasi  berbagai suku bangsa. Awalnya suku Betawi merupakan kata yang diambil dari Batavia. Batavia merupakan Jakarta itu sendiri sebelum berganti nama. Keberadaan suku Betawi telah tercatat sejarah pada zaman penjajahan Belanda.

Nama rumah adat suku Betawi adalah penggambaran dari bentuk bangunan itu sendiri. Seperti rumah Kebaya yang dinamakan demikian. Lantaran bentuk bangunan yang menyerupai lipatan baju kebaya. Rumah adat Joglo memiliki pengaruh gaya bangunan daerah lain. Meskipun tetap menyimpan originalitas suku Betawi.

Mengapa bisa penggabungan konsep dan gaya bangunan melibatkan sejumlah daerah? Karena asal usul suku Betawi sendiri merupakan gabungan berbagai suku. Dimana suku-suku seperti Jawa, Makasar, Bali, dan Sunda datang atas perintah Kolonial Belanda. Pernikahan merupakan cara tercepat percampuran budaya terjadi.

Sementara pada ornament-ornamen hiasan rumah cenderung dipengaruhi budaya luar. Pasalnya Jakarta menjadi pusat perdagangan yang membuat bangsa luar datang. Diantaranya adalah pencampuran pengaruh budaya bangsa India, Cina, Eropa dan Arab. Hal tersebut dengan mudah kita temukan pada bentu pintu atau teralis jendela rumah adat. 

Konklusi

Rumah Adat DKI Jakarta beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya– Suku Betawi konsisten menjaga kelestarian budaya mereka. Sehingga para generasi muda bisa menemukan keistimewaan setiap suku di Indonesia. Cukup banyak arsitek lokal yang mengadaptasi bentuk bangunan rumah tradisional Jakarta. Lantaran berkonsep asri dan lebih dekat dengan alam.

Filosofi bentuk rumah adat Betawi yang terbuka pada pendatang. Mencerminkan salah satu karakteristik bangsa Indonesia yang ramah terhadap semua orang. Meski selalu membatasi diri dari hal-hal negatif. Melalui filosofi rumah tradisional Jakarta, pembaca memahami bila menerima perbedaan dan hal baru bukan masalah besar. Asalkan mampu untuk mengendalikan diri.

Setelah mengetahui informasi lengkap seputar rumah adat Betawi. Apakah melestarikan kebudayaan bangsa masih relevan untuk generasi muda terapkan zaman sekarang? Bagaimana caramu berpartipasi mengenalkan keistimewaan tradisi dan budaya suku-suku di Indonesia? Demikianlah pembahasan seputar rumah adat DKI Jakarta, semoga bermanfaat.

TERBARU