BudayaRumah Adat Banten beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya

Rumah Adat Banten beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya

Rumah Adat Banten beserta Gambar, Ciri Khas, Sejarah dan Penjelasannya – Rumah menjadi kebutuhan utama semua orang selain makanan dan pakaian. Alasan seseorang membutuhkan tempat tinggal sangatlah beragam. Di antaranya agar terlindung dari cuaca, penyimpanan harta benda, tempat beristirahat, hingga pembuktian taraf hidup.

Tahukah kamu jika letak geografis bisa mempengaruhi bentuk dan material sebuah rumah. Hal tersebut juga berlaku pada semua tempat tinggal tradisional di Indonesia. Masing-masing bangunan mempunyai karakteristik dan sejarahnya. Salah satu yang masih terjaga keasliannya rumah tradisional Banten.

Terdapat tiga sebutan berbeda untuk tempat tinggal tradisional wilayah Banten. Seperti rumah adat Banten, rumah adat Baduy, dan Sulah Nyanda. Hingga hari ini masyarakat suku Baduy masih mendiami tempat tinggal tradisional tersebut. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mengulas secara lengkap informasi seputar rumah tinggal adat Banten. Jadi pastikan untuk membaca artikel hingga akhir.

Rumah Adat Banten

Pembangunan tempat tinggal adat pada masing-masing daerah menyimpan filosofinya. Seperti halnya Suku Baduy yang meyakini arah tertentu mempengaruhi atmosfer penghuni. Sehingga tempat tinggal hanya boleh menghadap utara dan selatan. Karena arah barat dan timur bagi keyakinan setempat tidak memberikan pengaruh positif.

Fakta tersebut jelas berbeda dengan pembangunan rumah modern. Dimana rumah perkotaan lebih simple dalam menerapkan aspek pembangunan. Suku Baduy sejak zaman nenek moyang konsisten menerapkan tempat tinggal ramah lingkungan. Mereka sepakat untuk semaksimal mungkin menjaga kelestarian alam. Gaya bangunan tersebut bisa dikategorikan sebagai arsitektur Vernakular.

Lantaran memanfaatkan bahan bangunan lokal yang sudah ada di lingkungan. Originalitas yang masyarakat setempat terapkan. Rupanya berhasil menciptakan keunikannya tersendiri. Meskipun tidak mempergunakan material modern. Rumah adat Banten tetap kokoh dan mampu menjaga penghuninya dari berbagai cuaca.

Rumah Adat Baduy

Rumah tradisional Banten bukanlah sebatas tempat tinggal biasa bagi masyarakat Baduy. Melainkan sebagai lambang citra jati diri setiap pemilik rumah. Fondasi batu dijadikan tiang penyangga sebagai fondasi model rumah panggung. Material kayu dan bambu juga mendominasi interior bangunan.

Berhubung selama pembangunan dilarang merusak lingkungan. Jadilah fondasi bangunan mempunyai ukuran tiang dengan ketinggian berbeda. Uniknya hal tersebut justru menyimpan nilai estetika tersendiri.  Fakta ini bisa kamu temukan melalui gambar rumah adat Banten berikut.

Rumah adat Banten, rumah tradisional suku Baduy di Provinsi Banten
Rumah tradisional suku Baduy di Provinsi Banten | via: fin.co.id

Rumah Adat Sulah Nyanda

Nama lain dari rumah adat banten adalah Sulah Nyanda. Rata-rata luas bangunan antara 100 meter2 hingga 120 meter2. Sekilas terlihat mirip dengan bangunan adat yang ada di wilayah Jawa Barat. Dalam proses pembangunan rumah tinggal adat, masyarakat menerapkan pola kerja gotong royong sehingga lebih cepat rampung. 

Berbeda halnya dengan budaya hidup masyarakat perkotaan yang individu. Suku Baduy masih menanamkan nilai-nilai kekeluargaan yang erat. Sulah Nyanda menerapkan teknik pasak atau paseuk sebagai ganti penggunaan material paku. Teknik tersebut diaplikasikan pada setiap tiang fondasi rumah, engsel, dan banyak lainnya.

Gambar rumah adat Sulah Nyanda nama rumah adat Banten
Gambar rumah adat Sulah Nyanda | via: goodnewsfromindonesia.id

Ciri Khas & Keunikan Rumah Adat Banten

Panjang bagian atap rumah adat Sulah Nyanda berbeda, di mana sisi kiri terlihat lebih panjang dari sisi kanan. Apabila biasanya rumah mempunyai ventilasi berbentuk jendela. Meski demikian rumah tetap terasa sejuk untuk ditinggali.

Desain bangunan tak menyentuh tanah, menjadi keunikan rumah adat banten dan penjelasannya lebih mengagumkan. Masyarakat suku Baduy enggan merusak alam dengan menguruk tanah. Tanpa merusak ekosistem masyarakat memilih menerima apa adanya kondisi alam.

Bangunan

Teknik bangunan rumah adat Banten Sulah Nyanda layak di adaptasi pada rumah-rumah modern berkonsep natural. Di jamin kamu akan menghemat biaya pembelian material seperti paku. Lantaran  semua sisi tiang akan terikat dan di perkuat menggunakan teknik paseuk.

Alih-alih memakai kayu, rangka pada bangunan adat beserta lantainya memakai material bambu. Seperti yang kita ketahui jika bambu mempunyai tekstur silinder dan bukan pipih. Pada bagian atas lantai akan kembali di lapisi bambu lembaran. Proses pembuatan bambu sebagai lapisan cukup sederhana. Yaitu memecahkannya, kemudian akan diratakan menyeluruh ke semua sisi bangunan.

Memilih bambu sebagai material pada dinding dan lantai. Memberikan celah ventilasi udara yang cukup bagi penghuni. Umumnya masyarakat akan mengumpulkan dahulu bahan-bahan membangun. Ketika dirasa bahan yang terkumpul sudah cukup. Barulah proses pembangunan akan dimulai bersama-sama.

Tiang

Tiang fondasi yang menyangga rumah mempunyai ketinggian beragam. Lantaran posisinya mengikuti kontur tanah. Misalkan tiang untuk tanah berkontur tinggi, maka tiang fondasi akan dibuat lebih pendek. Sementara pada lahan berbidang miring, otomatis tiang akan berukuran lebih tinggi. Agar mampu menyangga bangunan dengan stabil.

Tiang terpasang satu sama lain memakai purus dan coak. Semakin memperkuat teknik pasak ketika menyatukan fondasi dan bangunan. Nantinya tiang fondasi di tumpukan pada batu kali berukuran besar. 

Batu kali memegang fungsi penting terhadap bangunan adat Baduy. Masyarakat setempat paham dengan kemungkinan lahan bergeser ataupun longsor. Jadilah batu kali dianggap mampu menahan rumah supaya tidak mudah roboh. 

Batu tidak boleh terpecah atau dalam kondisi sudah tertanam. Sebagai bentuk implementasi nilai Ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pencarian material batu juga dilakukan bersama. Dengan mencari material pada lokasi sekitar bangunan.

Pintu

Panto rumah adat Banten yaitu sebuah daun pintu yang terbuat dari bambu. Bambu berdiameter kurang lebih 5 cm. Kemudian dianyam secara vertikal hingga terbentuk seukuran daun pintu. Anyaman bambu akrab disebut sebagai sarisig.

Sementara untuk ventilasi bukanlah jendela seperti di rumah biasanya. Melainkan berbentuk lubang pada lantai rumah. Penghuni harus berjalan keluar panto jika hendak melihat situasi luar rumah.

Dinding

Rumah adat Banten Baduy mempergunakan bambu yang dianyam sebagai dinding. Terdapat dua jenis anyaman untuk dinding rumah.

Pada dinding bagian bawah rumah sengaja dianyam lebih rapat. Sementara sisi dinding bagian atas terlihat berjarak. Tujuannya agar sirkulasi udara dan cahaya matahari lebih mudah masuk.

Lantai

Sebelumnya telah di jelaskan jika lantai menggunakan bambu sebagai rangka dan lapisan. Agar penghuni rumah merasa nyaman saat duduk. Mereka juga kerap meletakkan tikar dari anyaman daun pandan sebagai alas.

Masyarakat Baduy tidak meletakkan perabotan modern di dalam rumah mereka. Itulah mengapa penghuni rumah menerima tamu beralaskan tikar pandan.

Atap

Bagian atap rumah adat suku Baduy menggunakan bambu sebagai rangka. Dapat juga anda sebut sebagai Nyanda, yang berarti bersandar agak kebelakang. Atap berukuran panjang dan miring ke bawah pada bagian ujungnya. Sementara bagian atas atap memakai material kayu.

Setelah rangka terpasang kuat, barulah menempatkan daun nipah. Daun nipah atau ijuk mampu melindungi bagian dalam rumah dari air hujan, panas matahari, dan hembusan angin.

Dekorasi

Status kekayaan suku Baduy diperhitungkan berdasarkan banyaknya tembikar kuningan dalam rumah.  Semakin banyak seseorang menyimpan tembikar, dapat tergolong sebagai status keluarga terpandang. Rumah adat Banten dan keunikannya membentuk pola pemukiman terpusat. Dimana pagar alam menjadi pembatas wilayah yang mengelilingi kampung tertentu.

Rumah warga suku Baduy selalu menghadap depan rumah sang ketua adat. Puun atau ketua adat membangun tempat tinggalnya menghadap selatan. Sementara persis di depan rumah Puun terdapat balai adat. 

Fungsi dari balai adat adalah tempat masyarakat setempat melaksanakan tradisinya. Seperti sunatan, pernikahan, rapat adat, lamaran, dsb. Warga yang masih menumbuk padinya sendiri, menempatkan saung lisung pada bagian belakang balai adat. 

Rumah tempat tinggal suku Baduy berbeda dengan bangunan biasa. Mereka terlebih dahulu akan merangkai semua bagian rumah. Setelah setiap sisi terakit sempurna, barulah bersama-sama masyarakat akan mendirikan bangunan tersebut. Rumah dirakit menggunakan tali awi yang kuat tersimpul pada setiap komponen.

Panto pun tidak mempunyai lubang kunci. Karena masyarakat setempat menjalani hidup dengan jujur. Mereka merasa aman meninggalkan rumah dalam kondisi tidak terkunci.  Sementara pada bagian dalam pintu terdapat dua palang kayu. Berfungsi mengunci dari bagian dalam saja. Penghuni harus menaik turunkan palang dari posisinya.

Denah Ruangan

Rumah adat suku Baduy disebut sudah menerapkan sistem drainase dengan sempurna. Meskipun terlihat sederhana, masyarakat memahami cara membuat resapan air. Mereka mengerti bahwa air mampu menyebabkan tanah tergerus terus menerus. Terdapat pembagian fungsi ruangan pada bangunan adat Banten. Yaitu Seroso, Tepas, Ipah dan Leuit.

Pada proses pembuatan bangunan, cara pengukuran dimensi rumah. terbilang unik. Pengukuran menggunakan ukuran tubuh sang pemilik bangunan. Biasanya suku Baduy meminta kepala keluarga untuk diukur tinggi badannya. Membuat Ukuran pintu dengan menambahkan satu telapak tangan dari tinggi kepala keluarga. Lebar pintu hanya seukuran ketika pemilik rumah bertolak pinggang.

Gambar ruangan rumah adat Banten  rumah tradisional Sulah Nyanda
Gambar ruangan rumah adat Banten | via: aminama.com

Seroso

Pada bagian depan rumah adat Banten bernama Seroso. Berfungsi sebagai teras untuk menerima kunjungan tamu. Penghuni juga kerap bersantai, menenun, atau sekedar menikmati udara segar. Para wanita dan anak-anak sering berkumpul di teras rumah. Bentuknya menyamping sesuai bentuk bangunan. Terdapat lubang udara pada sisi lantai rumah.

Tepas

Bagian rumah adat suku Baduy Banten selanjutnya adalah Tepas. Terletak pada bagian dalam rumah untuk tempat bersantai penghuni. Bisa juga di pergunakan sebagai lokasi istirahat tidur malah harinya. Tepas termasuk bagian rumah yang multifungsi, masyarakat Baduy kerap mengadakan pertemuan keluarga di sana. Agar semakin fleksibel tidak di buat sekat yang memisahkan Seroso dengan Tepas.

Ipah

Bagian belakang rumah bernama Ipah. Berfungsi sebagai tempar menyimpan bahan-bahan memasak dan dapur. Kepala keluarga dan istrinya biasanya beristirahat disini. Suku Baduy tergolong efisien memanfaatkan bagian-bagian dalam tempat tinggalnya.

Leuit

Letaknya tidak menyatu dengan rumah, berfungsi menyimpan hasil panen. Alasan tidak berdekatan dengan bangunan utama. Agar pemilik rumah masih mempunyai bahan makanan. Apabila secara tidak terduga mengalami musibah atau bencana alam.

Menyimpan hasil panen pada Leuit tidak bisa sembarangan. Masyarakat harus mengikuti aturan adat suku Baduy yang berlaku. Bagian satu ini akan mendapat perlindungan berupa pembacaan mantra oleh ketua adat.

Sejarah & Asal Usul Rumah Adat Banten

Kanekes atau suku Baduy merupakan kelompok etnis dari tanah Sunda. Mereka mengisolasi diri dari perkembangan modernisasi luar. Hidup berdampingan dengan tenang di Kabupaten Lebak Banten, Jabar. Keunikan dan originalitas bangunan tradisional Sunda, terpresentasikan dengan apik di perkambungan masyarakat Banten.

Nama rumah adat Banten yaitu Sulah Nyanda mempunyai arti bersandar dalam posisi miring. Sehingga terlihat sedikit datar menurun pada bagian belakan. Itulah mengapa rumah akan berbentuk memanjang. Dengan kerangka atap terlihat mempunyai kemiringan lebih rendah.

Rumah bagi suku Baduy mempunyai filosofi yang mendalam. Meskipun tempat tinggal berdesain sederhana. Mereka tidak hanya menjadikannya sebagai tempat berteduh atau tidur saja. Berdasarkan aturan adat yang berlaku, tempat tinggal akan dibangun sesuai kepribadian pemilik rumah.

Kamu dapat melihat kesederhanaan terpancar dari rumah adat satu ini. Pastinya terlihat kontras apabila kita bandingkan dengan rumah di kota besar. Tapi hal tersebutlah yang membentuk jati diri masyarakat suku Baduy. Mereka merasa nyaman dan terlindungi dalam rumah yang di bagun bergotong royong.

Konklusi

Rumah Adat Banten beserta Gambar, Ciri Khas dan Sejarahnya–  Berdasarkan pembahasan di atas, tersimpulkan keindahan rasa menghargai tradisi. Sikap menghormati aturan yang berlaku, membuat masyarakat Baduy menjaga kelestarian alam. Suku Baduy suka rela bahu membahu mengulurkan tangan. Sehingga pekerjaan yang sulit pun dapat rampung dalam kurun waktu cepat.

Rumah adat tetap kokoh dan mampu berfungsi sebagai mana mestinya. Tanpa perlu merusak alam atau memakai material modern. Pemikiran sederhana yang bijaksana juga menghasilkan aktifitas tanpa gesekan. Dapat kita lihat bahwa bangunan tradisional Banten, memahami konsep pembagian fungsi ruang. Terbukti dari adanya ruang seperti Seroso, Tepas, Ipah, dll. 

Bahkan masyarakat baduy memahami pentingnya sistem resapan air. Dimana pembangunan modern kerap melewatkan sistem drainase. Bagi penulis, teknik dan konsep arsitektur cukup menarik di terapkan untuk rumah modern. Demikian pembahasan seputar rumah adat kali ini, semoga bermanfaat.

TERBARU